Perspektif Pembaca: “Review Semua Ikan di Langit”

Judul : Semua Ikan di Langit
Penulis : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit : Grasindo
Tebal Buku : 259 Halaman
Cetakan Pertama, Februari 2017
ISBN : 9786023758067
Rating : 4 dari 5

 

“Kebahagiaan Beliau melahirkan bintang.
Kesedihan Beliau membunuh keajaiban.
Kemarahan Beliau berakibat fatal.”

 

“Pekerjaan saya memang kedengaran membosankan— mengelilingi tempat yang itu-itu saja, diisi kaki-kaki berkeringat dan orang-orang berisik, diusik cicak-cicak kurang ajar, mendengar lagu aneh tentang tahu berbentuk bulat dan digoreng tanpa persiapan sebelumnya—tapi saya menggemarinya. Saya senang mengetahui cerita manusia dan kecoa dan tikus dan serangga yang mampir. Saya senang melihat-lihat isi tas yang terbuka, membaca buku yang dibalik-balik di kursi belakang, turut mendengarkan musik yang dinyanyikan di kepala seorang penumpang… bahkan kadang-kadang, menyaksikan aksi pencurian.

 

Trayek saya memang hanya melewati Dipatiukur-Leuwipanjang, sebelum akhirnya bertemu Beliau, dan memulai trayek baru: mengelilingi angkasa, melintasi dimensi ruang dan waktu.”

 

Berhasil membaca dua chapter di novel ini belum membuat saya sebagai pembaca tergugah. Namun, ternyata mata ini berkeinginan terus melangkah di chapter ketiga, rasa penasaran pun mulai bangkit. Uniknya?? Setelah berhasil paham di chapter ketiga malah membuat pembaca kembali lagi membaca dari prolog untuk memahami cerita-cerita awal yang sebelumnya tidak dimengerti.

Mungkin bingung bagi sebagian orang yang sudah membaca novel satu ini. Apa yang pembaca satu ini cari? Apa sih yang dipastikan hingga mau mengulang membaca dari prolog lagi? Iya benar, banyak hal yang akan pembaca pastikan, salah satunya siapa si Beliau itu? Karakter ”Saya” yang menjadi sudut pantang pertama disini siapa? Bagaimana bisa ada sebuah bus Damri berwarna biru?

Konflik utama dalam novel ini memang tidak menonjol, tetapi banyak cerita-cerita kehidupan yang memiliki pesan kuat yang berhasil disampaikan Ziggy dengan cara yang halus dan unik. Melalui kisah perjalanan “Saya, si bus Damri yang gendut berwarna biru” dan “Beliau”. Beliau adalah anak lelaki kecil yang bermantel biru kebesaran yang selalu melayang, tidak pernah menginjakkan telapak kakinya di lantai bus, Beliau yang suka menjahit, dan selalu dikelilingi ikan Julung-julung.

Perjalanan ”Saya” yang awalnya hanya sebagai bus kota biasa menjadi sangat istimewa saat Beliau mengajak ”Saya” bertamasya melintasi ruang dan waktu bahkan hingga sampai ke angkasa luar. Tamu kami pertama adalah seekor kucing dari kamar paling berantakan di seluruh dunia. Lalu dengan Nad, seekor kecoa yang anaknya sudah mati menjadi ikan julung-julung yang mengikuti Beliau ke mana saja. Lalu, perjalanan itu terus saja berlangsung menemukan mereka dengan tokoh-tokoh lain dan cerita-cerita luar biasa para penumpangnya.

Cerita fantasi yang jika dipikirkan mungkin akan sedikit absurd dengan karakter-karakternya yang aneh, seperti Nad: kecoa Rusia yang pandai dan rajin membaca koran, Chinar si pohon yang sangat besar di luar angkasa yang pandai bercerita tentang kisah Beliau ternyata berhasil menyampaikan pesan-pesan di dalam kehidupan.

Bus Damri adalah bus kota biasa yang akhirnya mengitari antariksa bersama Beliau dan ikan Julung-julungnya yang memiliki rahang bawah panjang seperti jarum suntik. Bus ini berkemampuan membaca pikiran semua makhluk hidup lewat lantai bus yang dipijak mereka, bus yang menangis melalui kaca spion, yang marah dengan menyemburkan asam dari knalpot. ”Saya” adalah bus yang sangat mencintai Beliau meskipun beliau tidak pernah berbicara bahkan membuka mulutnya sedikitpun. Kecintaan ”Saya” kepada Beliau mampu membuat Beliau menangis dan akhirnya menjawab pertanyaan ”Saya” di akhir hidupnya yang dahulu tidak terjawab. Namun, bukan perkara mudah mencintai beliau,”Saya” mengakui bahwa mustahil tidak ada rasa takut dalam cinta sejati.

img_20170305_211932

Sebagai pembaca cerita ini, Beliau adalah sosok tuhan yang mengatur kehidupan, yang menolong makhluk hidup, yang membalas semua kebaikan manusia sekecil apapun, Beliau yang menulis cerita untuk bayi-bayi yang diciptakan bahkan mengubah dan menulis cerita baru untuk sesuatu yang sudah pernah dituliskan ceritanya. Ziggy benar-benar membuat pembaca berhasil berpikir bahwa Allah itu adil, membuat pembaca mengerti cara mencintai yang sebenarnya, mencintai Tuhan dan semuanya yang diberikan. Mengetahui bagaimana cara mencintai yang benar bukan mencintai dengan cara yang salah.

"Anda tahu hal yang paling tidak disukai beliau. Heheheh... bukan orang-orang yang tidak mensyukuri keajaiban yang Beliau hadirkan, atau orang-orang yang tidak mencintai kehadirannya. Heheheh... tapi, orang-orang yang menyakiti Beliau."

Mereka yang mencintai dengan cara di atas adalah salah karena mereka akan menjadi cahaya yang nantinya di angkasa akan diusir oleh Beliau. Cara mencintai di atas salah karena bukan karena cahaya itu tidak mencintai Beliau, tetapi karena cahaya itu begitu mencintai Beliau hingga ia tak bisa mencintai apapun lagi selain Beliau.

Ziggy berhasil menyampaikan pesan-pesan yang diajarkan oleh Tuhan dengan cerita yang disajikan melalui balutan imajinasi fantasi.

Pembaca cuplikan cerita sedikit tentang Pria Tua pemilik toko sepatu jahit yang mengatakan dunia setelah meninggal. Dia kedengarannya lebih senang jika tidak ada lagi kehidupan setelah mati karena rasanya lelah kalau habis mati kita harus hidup lagi. Pria tua ini sebenarnya mengkritik pemikiran orang zaman sekarang yang kurang berpikir, bukan ia tak ingin hidup setelah mati dan tidak percaya kehidupan setelah mati, hanya saja dengan berpikir seperti ini ia mempercayai adanya tuhan.

“Hmmm, sepertinya lebih asyik kalau bisa mati dan sudah, mati saja. Tapi, jangan bilang-bilang orang lain. kalau kedengaran begini, aku akan di gantung di menara jam dan dituduh tak bertuhan. Yah, begitulah orang zaman sekarang. Kalau tidak percaya pada hal yang sama dengan mereka, kau setan. Tidak boleh berpikir sama sekali, sepertinya. Saya rasa, mereka rasa, berpikir kerjaannya setan! Padahal kita kan disuruh sering-sering berpikir, benar tidak?”

Kalimat terakhir si pria tua ini berhasil membuat saya menahan nafas sejenak, apakah selama ini otak saya sering saya gunakan berpikir tentang kebesaran Tuhan (aduh, habis baca novel ini langsung solat deh 😊). Entahlah, semoga saja. Pria tua ini menjelaskan seseorang yang tak bertuhan dengan cukup jelas, yaitu seperti mereka yang mengatakan bahwa perempuan adalah “lelaki tak sempurna”, mereka yang berani bilang Tuhan membuat sesuatu yang tidak sempurna, seperti definisi kata perempuan tersebut.

dalam novel ini, Beliau adalah lelaki kecil yang baik hati dan pemberi bagi manusia yang mau berusaha, seperti cerita pada “Kisah Cinta dan Bunga Kol”. Kisah seorang Hamba yaitu petani yang memiliki sepetak tanah bobrok di belakang rumahnya yang jatuh cinta pada wanita pemilik peternakan besar yang punya banyak kuda. Dengan keberaniannya ingin menghadapi monster di hutan yang katanya membahayakan dan jika tidak membahayakan ia pun tidak akan membunuhnya serta kecintaannya terhadap wanitanya, Beliaupun memberikan bibit bunga kol dan juga bibit bawang yang hasil panennya melimpah bahkan sudah tidak bisa lagi dijual. Untuk menimang wanita pujaannya, Beliau dengan keahlian menjahitnya, menjahit semua kulit bawang hingga menjadi gaun pengantin yang sangat cantik untuk diberikan Pria ini ketika menimang wanitanya.

Menurut persepsi pembaca, cerita di atas membuktikan kecintaan Tuhan kepada manusia yang mau berusaha, cerita tentang sosok proa yang setia mencintai wanitanya hingga Tuhan mau menolong dan membantu sang pria.

Memang sepertinya terkesan berat, ya? Hahaha. Tapi, percayalah, ketika membaca cobalah ikut melakukan perjalanan dengan Bus Damri, Nad, dan Beliau, sehingga akan mendapat pemahaman demi pemahaman tentang konteks ke-Ilahian dan mengetahui cara si Bus Damri gendut yang begitu mencintai Beliau sehingga Beliau pun mencintai”Saya” dengan sangat besar.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: